Kamis, 21 Februari 2013

7 Falsafah Seni Bela Diri


7 Falsafah Seni Bela Diri


Semua hal di dunia ini memiliki falsafah. Falsafah ialah makna terdalam yang meliputi sesuatu hal. Misalnya falsafah olahraga yang tersirat di dalam semboyan "Men sano in corpore sano" (Di dalam badan yang sehat terdapat jiwa yang sehat pula). Diharapkan penggemar olahraga tidak hanya sehat badannya, tapi juga sehat jiwanya. Sehat jiwa di sini maksudnya sportif, jujur, tidak curang, dan mau mengakui keunggulan lawan.

Demikian pula seni bela diri. Bela diri memiliki falsafah. Misalnya Kempo dengan falsafahnya,"Kasih sayang tanpa kekuatan adalah kelemahan, kekuatan tanpa kasih sayang adalah kezaliman".

Menurut pendapat saya, ada 3 klasifikasi falsafah bela diri. Di bawah ini adalah uraiannya.

1. Falsafah Bertahan
Mengingat sejarah bela diri yang kental dengan suasana dan ajaran agama Budha, sebagian besar bela diri memiliki falsafah bertahan. Tidak menyerang lebih dahulu, dan hanya menggunakan jurus untuk membela diri. Tidak menggunakan bela diri untuk pamer atau unjuk kehebatan. Contoh bela diri aliran ini antara lain Aikido, Pencak Silat, dan Shaolin Kung Fu.

2. Falsafah Menyerang
Dalam perkembangannya, ahli bela diri mengembangkan tidak hanya teknik bertahan, tapi juga teknik menyerang. Menyerang memiliki keuntungan di mana kita bisa melumpuhkan lawan tanpa mesti menunggu serangannya. Di dalam beberapa kasus seperti melawan musuh berbadan besar atau perkelahian keroyokan, menyerang memberikan keunggulan mendahului melumpuhkan lawan sebelum keadaan berkembang menguntungkan lawan. Contoh bela diri yang menganut falsafah menyerang adalah Karate dan Tae Kwon Do.

3. Falsafah Melenyapkan
Bela diri di zaman dahulu juga digunakan untuk keperluan militer. Anda jangan terkejut mendengar ada bela diri yang memiliki falsafah melenyapkan atau menghabisi lawan. Sebab di dalam perang berlaku hukum "membunuh atau dibunuh". Contoh bela diri yang menganut falsafah melenyapkan antara lain ialah Ninjutsu.

7 Alasan Mengapa Perlu Memiliki Jurus Andalan


7 Alasan Mengapa Perlu Memiliki Jurus Andalan



Di setiap cabang olahraga, kita selalu melihat bintang atau juara. Misalnya di cabang tenis kita mengenal Bjon Borg, Martina Navratilova, Pit Sampras, dan lain-lain. Di cabang sepakbola ada Ronaldo dari Brazil dan Diego Maradona dari Argentina.

Kalau kita perhatikan, bintang-bintang tersebut sudah mumpuni tekniknya. Secara umum, mereka menguasai seluruh teknik yang diperlukan. Namun tidak hanya itu, mereka juga punya andalan masing-masing.

Misalnya Bjon Borg terkenal dengan pukulan forehand-nya, Pit Sampras terkenal dengan pukulan service-nya. Diego Maradona terkenal dengan keahliannya menembus lini belakang dengan cepat.

Hal yang sama berlaku juga di cabang olahraga bela diri. Bila Anda ingin lebih dari praktisi lainnya, selain mesti menguasai teknik keseluruhan, Anda juga mesti memiliki jurus andalan. Kalau perlu, jurus andalannya tidak hanya satu atau dua. Walaupun mesti diingat bahwa berbeda antara jurus andalan di dalam pertandingan dengan jurus andalan di dalam perkelahian. Jurus andalan di dalam pertandingan dibatasi oleh aturan pertandingan dan tidak ditujukan untuk menyakiti lawan.

Di dalam pertarungan sesungguhnya juga sangat diperlukan jurus andalan. Dengan ini, Anda bisa langsung melumpuhkan lawan tanpa banyak membuang napas dan tenaga. Membuat Anda menang dengan cepat dan mengalahkan lawan sebelum ia sempat mengembangkan dirinya.

Jadi Praktisi Bela Diri, punyailah jurus andalan masing-masing. Jurus andalan penting tidak hanya untuk keperluan olahraga atau pertandingan saja, tapi juga untuk keperluan bela diri. Jurus atau teknik andalan membedakan kita dengan orang lain, menunjukkan kelebihan kita di bidang olahraga, wibawa dan menyelamatkan kita di dalam pertarungan sesungguhnya. Oleh karena itu, punyailah jurus andalan Anda.

7 Cara Mengalahkan Lawan Dalam Satu Jurus


7 Cara Mengalahkan Lawan Dalam Satu Jurus


Mengalahkan lawan dalam satu jurus adalah ciri-ciri seorang praktisi bela diri yang ahli. Dengan ini, napas dan tenaga tidak dihamburkan percuma. Gerakan tidak sia-sia, waktu tidak terbuang. Dan lawan tidak sempat mengembangkan dirinya walaupun tingkatannya di atas kita.

Hal ini terutama dianjurkan di dalam pembelaan diri. Apakah pertarungan satu lawan satu, keroyokan, melawan musuh bersenjata, sangat baik melumpuhkan lawan hanya dengan satu jurus. Kita tidak perlu berlama-lama bertarung. Apalagi bila situasinya situasi antara hidup dan mati.

Bagaimana caranya? Milikilah jurus andalan dan terlatih. Sebaiknya jurus andalan itu banyak, paling tidak ada beberapa buah. Jadi Anda lebih mudah menghadapi lawan dengan beberapa variasi situasi pertarungan.

Di dalam pertandingan juga baik mengalahkan lawan hanya dengan satu jurus. Namun ada perbedaannya di sini. Pertama, jurus andalan yang kita latih memang untuk keperluan olahraga, tidak untuk menyakiti lawan. Kedua, kita mesti memiliki jurus yang kaya dan berbeda-beda. Jangan mengulang jurus yang sama dua kali. Karena jurus yang itu bila digunakan dua kali, sudah bisa ditebak dan diantisipasi lawan.

Jadi praktisi bela diri, kalahkanlah lawan hanya dengan satu jurus saja. Praktis, tidak membuang waktu dan tenaga, efisien, dan menyebabkan kita menang mudah. Dan yang paling penting, menyelamatkan kita di dalam pertarungan sesungguhnya.

7 Prinsip Teknik Pitingan


7 Prinsip Teknik Pitingan


Teknik Pitingan adalah teknik mengunci lawan di mana posisi kita dan lawan dalam keadaan berdiri, atau kita berdiri dan lawan jatuh. Bagian tubuh yang dikunci biasanya lengan, bahu, leher, dan kepala. Kuncian dengan posisi kita dan lawan jatuh menurut pendapat saya bukan termasuk teknik pitingan, melainkan teknik pergumulan.

Teknik pitingan merupakan salah satu teknik yang vital di dalam bela diri. Di dalam pertandingan, nilai pitingan lebih tinggi daripada nilai pukulan dan tendangan. Di dalam pembelaan diri, pitingan bisa digunakan melawan musuh bersenjata di mana sesudah ia terpiting kita dengan mudah melucuti senjatanya. Pitingan bisa digunakan untuk melumpuhkan lawan yang tidak perlu disakiti, misalnya orang gila yang mengamuk. Pitingan juga bisa digunakan untuk melerai perkelahian. Pendek kata, pitingan adalah salah satu hal yang penting di dalam bela diri.

Berikut adalah beberapa prinsip yang perlu diperhatikan saat melakukan pitingan:

Pertama, postur tubuh. Anda mesti memiliki posisi tubuh lebih tinggi daripada posisi tubuh lawan. Bila Anda dan lawan sama-sama berdiri, rendahkanlah posisi lawan dengan cara menekan leher/bahu/lengan lawan. Ini juga bisa dikombinasikan dengan pelintiran untuk membuat lawan tak berdaya.

Kedua, tekanan. Tekanan mesti pada bagian tubuh lawan yang tepat, dan dengan arah yang tepat pula. Tekanan yang salah menyebabkan pitingan Anda tidak mengunci dan gagal membuat lawan tak berdaya.

Ketiga, pelintiran. Selain menekan, Anda juga sebaiknya memelintir lawan. Pelintiran yang baik biasanya dengan cara membuat pelintiran melingkar pada persendian lawan. Ini sangat menyakitkan dan bisa mematahkan persendian. Berhati-hatilah mempraktekkannya di dalam latihan.

Keempat, kuda-kuda. Walaupun ada pitingan yang menggunakan kuda-kuda ringan, 80% teknik pitingan memerlukan kuda-kuda berat. Rendahkanlah dan lebarkanlah kuda-kuda Anda saat memiting lawan. Ini menguatkan posisi Anda dan membuat lawan tak berdaya

7 Karakteristik Bela Diri Berdasarkan Jenis Kuda-kuda


7 Karakteristik Bela Diri Berdasarkan Jenis Kuda-kuda



Berbagai bela diri tersebar di seluruh dunia. Beragam teknik sudah dikaji dan dikembangkan. Demikian pula dengan kuda-kuda. Berbagai macam kuda-kuda ada di dalam berbagai jenis bela diri.

Walaupun kuda-kuda banyak, pada dasarnya dapat dibagi menjadi dua kategori. Kategori pertama, kuda-kuda berat. Kategori kedua, kuda-kuda ringan.

Kuda-kuda berat adalah kuda-kuda yang lebar dan jauh jarak antara kedua kaki, dan biasanya salah satu atau kedua kaki membentuk siku. Tujuannya supaya tidak mudah dirobohkan. Karena lebar, menggunakan kuda-kuda ini tidak bisa bergerak cepat dan lincah.

Oleh karena itu, bela diri yang banyak menggunakan kuda-kuda berat tidak bergerak yang tidak perlu. Mereka suka mendekati lawannya dengan tujuan melumpuhkannya. Pukulan atau serangan cenderung dihadapi dan diatasi, dan mereka melumpuhkan lawan dengan satu/dua gerakan saja. Umumnya mereka ahli tangkap-menangkap dan juga ahli dalam teknik kuncian/pitingan, bantingan, dan patahan. Selain itu, bela diri yang banyak menggunakan kuda-kuda berat ahli dalam menghadapi lawan bersenjata dan duel satu lawan satu.

Kuda-kuda ringan ialah kuda-kuda dengan jarak kedua kaki dekat dan sempit, sehingga badan tampak tegak. Tujuannya supaya bisa bergerak cepat dan lincah.

Wataknya tidak suka diam. Pukulan atau serangan cenderung dihilangkan atau dihindari. Kesukaannya menjauh dari serangan kemudian membalas dengan pukulan/tendangan, menjauh lagi membalas lagi, dan seterusnya. Kecepatan dan kelincahan adalah ciri bela diri yang banyak menggunakan kuda-kuda ini. Mereka cenderung memperluas medan pertarungannya, dan biasanya kelabakan bila dimasuki pertahanannya.

Namun bela diri jenis ini juga kadang-kadang bertarung rapat dan menggunakan kuda-kuda yang siku, jika keadaan mengizinkan. Karena zaman sekarang tidak ada lagi bela diri yang masih orisinil.

Karena perkembangan zaman, kedua jenis bela diri ini sudah saling berasimilasi dan mempengaruhi. Wajar, karena bela diri jenis "martial art" sudah ada kurang lebih 1.500 tahun yang lalu. Waktu yang amat panjang untuk berkembang dan menerima pengaruh dari zaman, budaya, agama, norma, dan tentu saja bela diri lainnya.

7 Macam Teknik Hindaran


7 Macam Teknik Hindaran


Teknik Hindaran adalah teknik menghindari serangan lawan, sehingga serangan tersebut hilang begitu saja tanpa ditangkis atau ditangkap. Teknik ini ada di semua cabang bela diri.

Teknik Hindaran merupakan keterampilan yang esensial di dalam bela diri. Hal ini karena tidak semua serangan bisa ditangkis atau ditangkap. Misalnya ketika Anda diserang lawan dengan tendangan melayang. Atau ketika Anda ditebas dengan pedang Katana saat jarak Anda dan lawan jauh. Momen-momen semacam ini memerlukan keahlian menghindar yang baik.

Berikut adalah beberapa teknik hindaran yang lazim digunakan:

Hindaran Runduk, yaitu menghindari serangan lawan dengan cara merundukkan kepala. Ini digunakan untuk menghindari serangan lawan pada kepala.

Hindaran Condong, yaitu menghindari serangan lawan dengan mencondongkan kepala atau tubuh bagian atas. Ini digunakan untuk menghindari serangan pada kepala atau tubuh bagian atas.

Hindaran Langkah, yaitu menghindari serangan lawan dengan melangkahkan kaki selangkah. Baik melangkah ke samping, ke belakang, serong ke belakang, maupun serong ke depan. Di dalam praktiknya, hindaran ini sering dikombinasikan dengan rundukan atau condongan.

Hindaran Lompat/Angkat Kaki, yaitu menghindari serangan lawan dengan melompat/mengangkat kaki. Ini digunakan untuk menghindari serangan pada kaki seperti sapuan atau tebasan pedang pada kaki.

Hindaran Rebah, yaitu menghindari serangan lawan dengan merebahkan/menjatuhkan diri. Ini digunakan bila Anda diserang dari semua penjuru secara serentak. Jangan menggunakan hindaran ini bila Anda bukan seorang praktisi bela diri yang ahli dan tidak ahli bangun kembali dengan sangat cepat. Merebahkan diri berarti menempatkan diri dalam posisi yang sulit.

Hindaran Khusus, yaitu menghindari serangan lawan dengan teknik khusus. Misalnya salto, koprol, berjumpalitan di udara, dan lain-lain. Gunakanlah hindaran jenis ini hanya jika Anda sangat terlatih.

7 Latihan Visualisasi untuk Menerapkan Tindakan yang Tepat Pada Situasi


7 Latihan Visualisasi untuk Menerapkan Tindakan yang Tepat Pada Situasi Pertarungan


Pecinta bela diri, seorang bijak pernah berkata,"Hidup adalah pilihan".

Di dalam latihan bela diri, kita belajar untuk menang bertarung. Di antara teknik-teknik yang kita latih, ada yang bersifat fatal dan ada yang tidak. Ada banyak pilihan yang bisa kita ambil untuk menang atau selamat di dalam pertarungan sesungguhnya. Namun untuk menyederhanakannya, inilah pilihan yang mungkin kita ambil:

1. Membunuh atau mencederai lawan
2. Melumpuhkan atau melucuti senjata lawan tanpa mencederai
3. Tidak berkelahi (membujuk lawan, masuk ke ruangan, mengabaikan, dan lain-lain)
4. Melarikan diri

Pilihan yang kita ambil sangat bergantung pada situasi yang kita hadapi. Anda hendaknya memvisualisasikan (membayangkan seolah-olah terjadi) berbagai macam keadaan pertarungan di benak Anda, sekaligus memvisualisasikan apa yang Anda lakukan untuk mengatasinya. Latihan visualisasi begitu penting karena di dalam perkelahian sebenarnya hampir tidak ada waktu untuk berpikir. Apa yang Anda kerjakan bersifat spontan dan didapat dari alam bawah sadar Anda.

Sekarang marilah kita mulai memvisualisasikan situasi-situasi berikut ini. Anda mesti memilih dan memvisualisasikan sendiri tindakan yang Anda ambil. Saya tidak akan memberikan jawaban. Sebuah situasi mungkin memiliki 1 atau 2 jawaban.

Situasi 1

Adik Anda yang mabuk pulang dari bar. Ia marah-marah tanpa sebab. Kini ia mulai mencoba memukul Anda

Situasi 2

Ketika Anda sedang berjalan kaki di jalan, Anda bertemu dengan seorang yang kurang waras. Ia mengeluarkan pisaunya, dan kini menyerang Anda

Situasi 3

Anda seorang prajurit di medan perang. Komandan musuh ada di depan Anda. Kalian berdua sama-sama kehabisan peluru

Situasi 4

Anda terjebak di dalam sebuah kerusuhan. Tiba-tiba puluhan orang berteriak-teriak dan mengejar Anda. Jelas bahwa mereka akan menyerang Anda tanpa ampun

Situasi 5

Anda dan istri Anda ingin bercerai sebelumnya. Pagi tadi kalian mengetahui bahwa semuanya hanyalah kesalahpahaman. Siang ini, saudara ipar Anda yang belum tahu menemui Anda. Dalam keadaan marah, ia menyerang Anda dengan sebuah palu